Peran dan Fungsi Perpustakaan Bagi Masyarakat Pedesaan

     Seorang staf kelurahan, bu Carik sibuk mencari-cari sesuatu di perpustakaan, karena besok akan ada pertemuan PKK rutin setiap bulan. Dia nampak menuju ke tempat rak keluarga dan kesehatan. Disana ada buku tentang bagaimana merawat balita, atau anak yang berusia 2 tahun mimisan (pendarahan di hidung), apa yang dilakukan si ibu sementara berada di sebuah perjalanan yang tidak memungkinkan mencari daun sirih (mencegah darah dari hidung keluar lebih banyak). disandarkannya si anak di pangkuannya, kemudian dipijatnya hidung si anak selama sekitar lima atau sepuluh menit, maka  hidung si anak akan berhenti mimisan, "wah bagus juga buku ini untuk kusampaikan ke ibu-ibu besok". Pak Lurah menyadari arti penting perpustakaan bagi masyarakatnya, sehingga beliau sempat menyisihkan sebagian uang gajinya untuk petugas perpustakaan (peristiwa nyata yang terjadi di suatu desa di Magelang). Saya pernah membaca seorang sastrawan Austria (1883-1924), Franz Kafka,mengatakan, Buku harus menjadi kapak bagi lautan beku dalam diri kita. Dengan kata lain bahwa buku adalah tempat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan. Tidak sekedar buku adalah jendela dunia saja ya khan. Saya juga pernah membaca sebuah perpustakaan yang berada di Gunung Himalaya, konon yang saya dengar, perpustakaan bantuan PBB, UNESCO tersebut diperuntukkan penduduk di Himalaya yang mayoritasnya adalah petani-petani, lebih mencengangkan lagi ternyata masyarakat disana sangat suka membaca buku di perpustakaan. Hidup sederhana dan kemiskinan ternyata tidak berpengaruh terhadap budaya baca, mengingat kesadaran masyarakat tentang fungsi dan kemanfaatannya sebagai sarana menaikkan taraf hidup masyarakat sekitar. Kesadaran membaca yang ditanggapi tidak dengan permisif, masiv dan skeptis sikap seperti ini yang membuat masyarakat Mongolia, Jepang memiliki nilai jual yang tinggi terhadap menu-menu bacaan dan mereka sangat suka membaca bahkan suka menyalin ilmu  seperti yang dilakukan oleh inteletual muslim di jaman Abasyah sekitar lebih dari tahun 700 M Maka tidak heran bahwa tokoh intelektual muslim menemukan inovasi2 yang sangat terkenal di dunia berawal dari menyalin buku-buku Yunani ke bahasa arab,  (karena masjid pada saat itu berfungsi ganda sebagai ibadah memiliki ruang perpustakaan dan ruang belajar dengan tatanan tempat duduk setengah melingkar (tatanan tersebut sempat terlihat di universitas2 di dunia termasuk ke Indonesia). Seorang warga negara asing pernah setengah bercanda dengan temannya dari Indonesia. Well, you know...who keep the brain into frozen, because he feels not good to be upload outside..who...Indonesia..he,he..just a joke...rekan saya yang bekerja di sebuah foundation lebih konyol lagi, Dewi, kamu tahu enggak siapa yang lebih dulu ke bulan ya Amriklah, trus Rusia, Jepang Cina...dls....lha kalau Indonesia..kertas-kertas seminarnya yang udah  sampai ke bulan..he,he..tentunya canda seperti ini kita sikapi dengan belajar dari negara-negara maju.
    Peran perpustakaan di desa memegang peran penting untuk memajukan desanya dan warganya, tentu saja buku-buku disesuaikan dengan kemampuan pola pikir masyarakatnya, sebisa mungkin dimaksimalkan dengan adanya ruang tanya jawab diskusi aktif misal tentang bercocok tanam, diskusi mengatasi tanah longsor atau hutan gundul dan belajar membaca dan menulis (secara tidak langsung program bebas buta aksara yang dicanangkan oleh pemerintah terpenuhi). Dibutuhkan petugas yang bisa berkomunikasi aktif dan peduli dengan lingkungan. Saya pernah mengikuti bedah buku berjudul ' Speed Reading' di Gramedia Solo, Dosen Universitas Indonesia Profesor Bpk. Sulityo Basuki mengatakan, bahwa prosentase masyarakat Indonesia dalam menyesuaikan tingkat kemampuan membaca untuk ukuran high level   sekitar 2,8%, sedangkan sisanya adalah tingkat kemampuan belajar menengah ke bawah menyesuaikan tingkat kecerdasan masyarakat, sehingga diharapkan daya beli masyarakat lebih meningkat.
     Kami pernah menerima peserta seorang ibu yang memanfaatkan media ini untuk belajar iqro', ibu tersebut sangat bahagia, kebetulan putrinya juga belajar percakapan bahasa Inggris. Ketika ada lomba menyanyi nazid ibu tersebut kami latih untuk belajar vokal dengan lagu berjudul ' Tombo Ati'. Kami juga melatih kursus vokal dengan pelajaran tentang artikulasi dan bermain gitar dan organ. Ketika internet pertama kali muncul di daerah kami, beberapa pengunjung perpustakaan memanfaatkan media ini misalnya dari Sekolah Teologi Alkitab, LSM, warga yang melamar kerja, waktu itu media internet paling dekat telkomsel.
     Dalam rangka pembenahan administrasi total dan biaya operasional komputer (disesuaikan juklak Propinsi Jawa Tengah, yang telah kami terima edisi terbaru), sedang dalam taraf penyelesaian (termasuk pembuatan katalog subyek). Kita semua berdoa semoga Perpustakaan menjadi lebih fungsional amin. Bukankah ilmu kita cari karena ilmu mengangkat kita menjadi manusia yang lebih bermartabat?




Tidak ada komentar:

Ubah Pilihan Bahasa / Edit Language Translation