Cita-cita Tidak Berhenti di Satu Titik (Bernostalgia Lokakarya Wisma Hijau)

Arsip Perpustakaan Nasional di Google
      'Kalau bisa kita bekerja sama di bidang ini saling bantu membantu antara PKK dan Rumah Belajar', usulan salah seorang peserta yang tidak lain adalah wakil ketua PKK pusat ibu Sundari. Ketika kami sedang berdiskusi tentang Perkembangan Rumah Belajar di Wisma Hijau, Cimanggis, Depok. dalam rangka Presentasi yang saya ajukan bersama teman-teman pilot project yang diprakarsai oleh Coca Cola Foundaton Indonesia( CCFI) pada 14-16 Juni 2006 beberapa tahun yang lalu, dengan peserta 21.
( pilot project, dari Tawangmangu, SlemanYogya dan Prigen, Pasuruhan Jawa Timur) dan peserta dari instansi Perpustakaan Sukabumi Jawa Barat, Jogja Study Centre Badan Perpustakaan Daerah DIY.,Perpustakaan Grati Jawa Timur, Badan Perpustakaan Daerah Porpinsi Bandung Jawa Barat, Badan Perpustakaan Daerah Propinsi Padang Sumatera Barat, Badan Perpustakaan Propinsi Jambi, Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan, Makasar, Badan Perpustakaan Daerah Popinsi Jambi, Badan Perpustakaan Daerah Propinsi NTB, Mataram, NTB, DEPDIKNAS, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah, Jakarta. wakil dari Perpustakaan Nasional, Wakil PKK Pusat, Jakarta Selatan, TP PKK Propinsi DKI, Jakarta. Panitia dari CCFI dan Yayasan Taimmiyah, Jakarta. Dihadirkan 4 makalah yang dipresentasikan masing-masing memiliki ciri khas:
1. Makalah dari Ibu Yuni, pengelola PKBM, Banyuraden Sleman Yogya berisi tentang seputar kegiatan rumah belajar TM Mandiri, banyak pengunjung dan rumah belajar difungsikan sebagai media belajar buta aksara,Bahasa Inggris, mengerjakan PR (pekerjaan rumah), (waktu itu Gedung mengalami retak pasca gempa bumi).
2. Rumah Belajar Edelweis merupakan rumah belajar rintisan yang lebih difokuskan pada media belajar dan wadah kreatifitas anak dan remaja. dalam Perkembangannya memiliki 3 fungsi yakni, media pustaka, rumah belajar dan informasi wisata.(Kemudian kami mendapatkan bantuan IPTEK komputer dari CCFI)
3. Rumah belajar perpustakaan Grati merupakan media belajar berskala IPTEK (komputer, audio visual, pemutaran film) program-program terkoordinir. Yang menarik bagi penulis mediajurnalistik, adanya kelompok usia mengadakan kreatifitas melalui majalah dinding.  melibatkan berbagai elemen masyarakat misal, guru TK, bedah buku menghadirkan penulisnya, club belajar, pengunjung rata-rata 200 orang per hari.Dikelola oleh sukarelawan dan petugas PERPUSDA.
4. Rumah Belajar Kartini Prigen, memberikan ulasannya tentang sisi yang berbeda. Prigen merupakan daerah wisata sama dengan Tawangmangu. Hal ini memicu Pak Kasno (mantan ketua KNPI) dan kawan-kawan untuk mengelola Rumah Belajar dengan memanfaatkan buku-buku ketrampilan yang berkaitan dengan potensi yang ada., membuka stand tanaman hias, membuat APE (peralatan main untuk TK dan PAUD),  membuat pupuk kompos, mengadakan penyuluhan,  menelaah buku tanaman hias.
       Bapak Agus dari CCFI mengungkapkan bahwa, tujuan dari Manifesto UNESCO bahwa 'Perpustakaan sebagai tempat mengembangkan kualitas sumber daya manusia'. Usulan dari PKK Pusat 3 hal antara lain: - Adanya siklus pertemanan dalam rangka merealisasikan ide-ide. Mendirikan asosiasi pemerhati Rumah Belajar. Menjadikan PKK dan Rumah Belajar sebagai partner. Kemudian dalam lokakarya Hasil Pengembangan Perpustakaaan Kecamatan/Desa sebagai Rumah Belajar memunculkan ide-ide dari para peserta antara lain:1. sistem konvensional (layanan yang bersifat umum),2. pelayanan akar buah, adanya workshop-diklat-praktek lomba-reward. 3. pelayanan terpadu misalnya, even organizer-keperluan hayatan-dekorasi(meliputi, konsumsi, undangan, kebersihan).4. pelayanan jemput bola (delivery order), misalnya, mengunjungi rumah sakit, perkumpulan, SMS, perpustakaan keliling.5. pelayanan paket khusus misalnya ke kelompok peternak, 6. pelayanan silang terpadu misalnya, siklus tukar menukar buku antar kelompok, 7.promosi misalnya, hari baca, hari kunjung, penyelenggaraan pameran dls. 8. layanan edukatif, mainan, bimbingan pemakai, layanan guide, 9.layanan multi fungsi, datang ke suatu tempat mengadakan pendidikan buta aksara, pengolahan buku, mendongeng.9.Layanan multi media, pemutaran film, 11 layanan magang. Kedua adalah di bidang pengembangan profesionalitas SDM (penulis, peneliti, pelatih, pengusaha, nara sumber ahli di bidang tertentu, pengajar, konsultan, pendongeng sebagai profesi, stakeholder, menghasilkan pustakawan-pustakawan, membentuk wadah ikatan profesionalitas), dan terakhir, keberlanjutan pengelolaan rumah belajar (pemasran buku cetak melalui kelompok belajar, kerjasama dengan penerbit lokal, membentuk koperasi rumah belajar dls.)
    Lokakarya berlangsung selama 3 hari, memberikan kesan yang mendalam bagi penulis untuk berkontribusi dalam pengembangan pustaka, media belajar dan informasi wisata. Bekal pengalaman dalam perjalanan yang panjang diniatkan tidak lain untuk mengembangkan potensi dan SDM. Tulisan oleh-oleh yang sempat tersimpan lama ini semoga bermanfaat bagi pembaca.Semoga Alloh Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan bagi kita semua dalam usaha memajukan daerah kita khususnya dan tanah air tercinta ini amin.
   Seorang lelaki kurus tinggi berkaca mata minus tebal berjalan menghampiri penulis ketika penulis membuka almari dengan bunyi berderit karena lama tidak dibuka. "Ughh susah membukanya Pak". "Mencari apa Nak?". " Buku Layar Terkembang karangan Sutan Takdir Alisahbana Pak". " Wah, buku itu jarang ada yang baca". celetuk seorang wanita dengan rambut disanggul dan berbadan gemuk. Pengalaman sewaktu penulis masih kuliah ketika mengunjungi sebuah perpustakaan yang jarang dikunjungi kecuali mahasiswa dalam hal mengerjakan tugas kuliah. Semoga pomeo tentang perpustakaan akan berkembang menyesuaikan jaman ke arah yang lebih baik untuk sebuah tolak ukur kecerdasan masyarakatnya yang memang menginginkan masa depan yang lebih baik dengan membudayakan membaca. Apakah anda suka membaca?bacalah maka dasar lautan akan anda capai. 
                                                 Perpustakaan (from Google)

Tidak ada komentar:

Ubah Pilihan Bahasa / Edit Language Translation